Senin, 31 Oktober 2016


LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AKTIVITAS ENZIM AMILASE 

Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah parktikum Fisiologi hewan yang di ampu oleh Siti Nurkamilah M. pd

kelompok 5 


Mia Ratnasari  (14541053)
Siti Solihah      (14541000)
Sofi Yulianti     (14541000)
Hasni safitri     (14541000)
M. Hasanudin  (14541200)
Ajeng Nur' A   (14541000)
Neng Ulfah       (14541000)





LABORATORIUM PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) GARUT 
2016

A. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami proses pencernaan makanan dengan bantuan saliva
2. Untuk mengetahui pengaruh tempratur terhadap kerja enzim amilase

B. Landasan Teori 

Hewan dan manusia memperoleh makanan yang di butuhkan dari tumbuhan dan hewan lainnnya. fungsi makanan bagi tubuh adalah untuk menghasilakan energi, pertumbuhan dan mengganti sel / jaringan yang rusak. Bahan makanan yang dikonsumsi terdiri atas senyawa karbohidrat, lemak, protein, vitamin, air dan garam mineral. Beberapa senyawa seperti karbohidrat, lemak dan protein dapat diserap setelah melalui proses pencernaan.  Melalui proses pencernaan makanan senyawa tersebut di pecah menjadi molekul molekul yang kecil dengan komposisi kimia sederhana sehingga dapat dengan mudah dapat diserap oleh dinding saluran pencernaan. 
secara Umum pencernaan makanan pada manusia melalui dua proses yaitu pencernaan fisik (mekanis) dan pencernaan kimiawi. pencernaan fisik merupakan proses pengubahan molekul makanan yang besar menjadi kecil-kecil. Misalnya penghancuran makanan dengan gigi atau otot lambung . Pencernaan kimiawi adalah pencernaan zat pati (amilum) oleh ptyalin (suatu amylase) menjadi malosa, trisakarida dan dekstrin. Ptyalin bekerja di rongga mulut pada Ph 6,3-6,8 dan masih bekerja di lambung sampai asam lambung menurunkan PH nya sehingga ptyalin tidak bekerja lagi. Air ludah yang mengandung sedikit lingual lipase yakni suatu enzim yang memecahkan trygliserida menjadi asam lemak dan monoglyserida enzim ini bekerja terutama dalam suasana asam, yakni setelah makanan mencapa lambung. 
enzim merupakan senyawa protein yang dapat ddi gunakan di dalam proses pencernaan makanan. Ada pun beberapa contoh enzim yang berperan dalam proses pencernaan makanan adalah sukrase, amylase, lipase, pepsin dan tripsin. 
kerja suatu enzim sangat di pengaruhi oleh beberapa faktor antara lain suhu , pengaruh pH dan hambatan reverssibel. 
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi enzim diantaranya adalah (Dwidjoseputro, 1992) :
a.       Suhu
Oleh karena reaksi kimia itu dapat dipengaruhi suhu maka reaksi menggunakan katalis enzim dapat dipengaruhi oleh suhu. Di samping itu, karena enzim adalah suatu protein maka kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi dan bagian aktig enzim akan terganggu sehingga konsentrasi dan kecepatan enzim berkurang.
b.     pH
Umumnya enzim efektifitas maksimum pada pH optimum, yang lazimnya berkisar antara pH 4,5-8.0. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah umumnya enzim menjadi non aktif secara irreversibel karena menjadi denaturasi protein.
c.    konsentrasi enzim
Seperti pada katalis lain, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksibertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.
d.      Konsentrasi substrat
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepat reaksi. Akan  tetapi, jika pada batas tertentu tidak terjadi
kecepatan reaksi, walaupn konsenrasi substrat diperbesar.
e.       Zat-zat penghambat
Hambatan atau inhibisi suatu reaksi akan berpengaruh terhadap penggabungan substrat pada bagian aktif yang mengalami hambatan.

Suatu enzim hanya dapat bekerja spesifik pada suatu substrat untuk suatu perubahan tertentu. Misalnya, sukrase akan menguraikan rafinosa menjadi melibiosa dan fruktosa, sedangkan oleh emulsin, rafinosa tersebut akan terurai menjadi sukrosa dan galaktosa.
C. Alat dan Bahan 
 No 
Nama Alat 
Gambar 
 1. 
Gelas Kimia 


 2. 
 Tabung Reaksi 


 3. 
 Bunsen 


 4. 
Termometer 


 5. 
Spatula


 6.
penjepit Tabung Reaksi 


 7. 
Pipet tetes 


 8. 
corong 


 9. 
 kasa asbes dan kaki tiga 




 No 
Nama Bahan 
Gambar 
 1. 
 Saliva 

 2. 
Kain Kasa 




 3. 
Larutan Iodium 

 4. 
Larutan Amilum 

D. Cara Kerja 
1. saliva yang telah terkumpul dari semua praktika kemudian d saring dengan kain kasa kasar 
2. menyediakan tiga buah penangas air , setelah itu panaskan sampai pada temperatur yang di inginkan 
3.memasukan larutan amilum sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi sebanyak 3 buah 
4. memasukan tabung reaksi kedalam penangas air yang telah disiapkan 
5. setelah 10 menit kemudian pada masing - masing tabung reaksi di masukan 15 tetes saliva yang telah di saring dan mencatat waktu pemasukanny. 
6. setiap interval 1 menit di lakukan tes dengan larutan iodium sampai terjadi titik achromatis dan mencatat waktunya 
7. selama pengujian iodium tabung reaksi tidak boleh dikeluarkan dan menjaga masing-masing penangas air agar tetap konsatan 
8. kemudian membandingkan hasil dari masing-masing tabung percobaan 

E. Hasil Pengamatan 


     Dengan menggunakan larutan Lugol didapatkan hasil    sebagai berikut :
No
Waktu (menit)
Perubahan warna
24°C
37-38°C
>88°C
1
1
+++
+++
+++
2
1
+++
+
++
3
1
++
-(achromatis)
+++
4
1
++
+
++
5
1
- (achromatis)
+
+
6
1
+
+
-(achromatis)
7
1
+
+
+
8
1
+
+
+
  9
1
+
+
+
 10
1
+
+
+
 11
1
+
+
++
 12
1
+
+

 13
1
+
++

 14
1
+


 15
1
++


keterangan : 
1. +++  (pekat)

2. ++    (cukup pekat)
3. +      (tidak pekat)
4. -       (Achromatis)


F. Pembahasan
Pada suhu 24°C keadaan larutan amilum  yang berwarna putih, setelah didiamkan selama 5 menit kemudian ditetesi saliva (Air ludah) sebanyak 15 tetes dan larutan lugol untuk satu menit pertama dan kedua warna nya berubah menjadi warna ungu pekat, akan tetapi pada saat menit ketiga dan keempat mengalami perubahan warna menjadi ungu tapi tidak pekat, kemudian pada menit kelima mengalami titik achromatis  dimana warnanya kembali menjadi putih dan tidak mengalami perubahan warna lagi, hal tersebut menandakan bahwa enzim bekerja dengan baik. Kemudian setelah dilakukan pengulangan sebanyak 10 kali selanjutnya larutan amilum mengalami perubahan warna menjadi warna ungu tetapi tidak pekat, dan warna tersebut tidak kembali lagi ke warna putih, hal tersebut menandakan bahwa enzim sudah rusak dan tidak dapat bekerja lagi.
Pada suhu 37-38°C keadaan larutan amilum yang berwarna putih, setelah di diamkan selama 5 menit kemudian ditetesi dengan saliva dan larutan lugol untuk satu menit pertama warna nya berubah menjadi warna ungu pekat, setelah menit kedua mengalami perubahan warna lagi yaitu dari warna ungu pekat menjadi ungu tetapi tidak pekat, setelah menit ketiga larutan mengalami perubahan warna menjadi putih atau terjadi titik achromatis dimana larutan tidak mengalami perubahan warna lagi yang menunjukan bahwa enzim bekerja dengan baik. kemdian setelah dilakukan pengulangan sebanyak empat kali selanjutnya larutan mengalami perubahan warna dan terdapat tiga lapis endapan yaitu berwarna kuning, ungu dan putih. Pada pengulangan ke ketiga belas, larutan berwana putih dan tidak mengalami perubahan warna lagi, hal tersebut menandakan bahwa enzim yang terdapat dalam larutan sudah rusak dan tidak dapat bekerja lagi.
Pada suhu >88°C keadaan larutan amilum berwarna putih, setelah di diamkan selama 5 menit dan ditetesi dengan saliva sebanyak 15 tetes dan larutan lugol untuk satu menit pertama warnanya berubah menjadi warna ungu pekat, dan setelah dilakukan pengulangan sebanyak enam kali dengan larutan lugol warnanya berubah menjadi putih dan mengalami titik achromatis yang menunjukan bahwa enzim bekerja dengan baik. Kemudian setelah menit ke tujuh sampai menit ke sebelas mengalami perubahan warna menjadi warna ungu tapi tidak pekat, dan warnanya tidak kembali kewarna putih, hl tersebut menunjukan bahwa enzim yang ada dalam saliva tidak dapat bekerja lagi.
G. Kesimpulan

Pada percobaan yang telah kelompok kami lakukan yaitu uji aktivitas  enzim amylase melalui air ludah atau saliva, yang bertujuan untuk mengetahui kandungan enzim amylase pada air ludah. Uji ini dilakukan dengan menggunakan tiga perlakuan yang berbeda-beda, yaitu pada suhu 24°C, suhu 37-38°C dan suhu >88°C. 

Dari hasil percobaan yang telah kelompok kami lakukan dapat disimpulkan bahwa kerja enzim amylase yang terdapat pada air liur atau saliva dapat dipengaruhi oleh suhu tertentu, dari hasil percobaan kelompok kami enzim yang bekerja dengan baik yaitu pada larutan yang ditetesi saliva dan larutan lugol pada suhu 37-38°C karena pada suhu inilah terjadi achromatis yang cepat dan menandakan bahwa enzim bekerja dengan baik. Sedangkan pada suhu 24°C kerja enzim sedikit lambat dan pada suhu >88°C kerja enzim lambat. Kemudia enzim dalam larutan amilum yang disimpan dalam suhu >88°C tidak dapat bekerja secara optimal lagi dalam waktu yang cepat, sedangkan kerja enzim dalam larutan amilum yang disimpan dalam suhu  24°C  dan suhu  37-38°C  tidak dapat bejerja secara optimal lagi dalam waktu yang lambat.
LAMPIRAN










Tidak ada komentar:

Posting Komentar